Review
Nazaruddin
Sjamsuddin, PNI dan Kepolitikanya
Buku
ini menyajikan perkembangan di tubuh PNI serta peranan partai ini dalam keadaan
atau perkembangan politik Indonesia diantara tahun-tahun mencemaskan, yaitu
1963-1969. Perkembangan politik dimasa itu, secara nyata telah membawa pengaruh
yang tidak kecil bagi perkembangan dan berperannya PNI dalam kehidupan politik Indonesia.
Bagaimana pengaruh atau betapa besarnya pengaruh itu, tercermin di dalam
bagaimana sikap atau politik yang dijalankan PNI dalam menghadapi lingkungan
sekitarnya.
Pada
awal pembentukan PNI, hubungan dengan Soekarno tercermin di dalam adanya
keinginan tokoh-tokoh partai itu yang memandang pembentukan partai pada 1946
sebagai suatu kebangkitan PNI yang didirikan Soekarno pada 1927. Sehingga PNI
kemudian mengidentikkan partai dengan figur Bung Karno. Hubungan PNI dengan
PKI, disimpulkan dalam buku ini bahwa terdapat kerja sama PNI dan PKI ditigkat
pusat meskipun ada letupan konflik-konflik di daerah seperti yang terjadi di
Klaten, Boyolali dan Banyuwangi
selama era Demokrasi Terpimpin. Sedangkan hubungan PNI dengan
militer pada masa 1964-1965,
tidak ada perbedaan prinsipil antara keduanya, bahkan Ahmad Yani mengatakan,
perbedaan PNI dan TNI hanya pada
huruf “T” dan “P” saja.
Dalam
Bab Pendahuluan, Nazaruddin Sjamsuddin memusatkan
perhatiannya pada struktur partai hingga 1965 serta peranan partai tersebut
pada masa akhir demokrasi terpimpin. Dengan mengutip Maurice Duverger, penulis
buku membagi atas dua jenis struktur yakni langsung dan tidak langsung. Yang
dimaksud struktur langsung adalah partai
yang tersusun
atas individu yang mengisi formulir keanggotaan serta membayar iuran partai.
Sedangkan pada struktur
tidak langsung,
keanggotan terbentuk melalui organisasi buruh, koperasi dan kelompok
intelektual. Dalam buku ini,
penulis mengkategorikan struktur PNI termasuk dalam struktur yang
langsung karena anggota-anggota organisasi massanya boleh dikatakan tidak
mempunyai sesuatu hak terhadap partai.
Perpecahan
dalam tubuh PNI yang terjadi pada tahun 1965 menjelang kudeta PKI telah
mengangkat ke permukaan perbedaan-perbedaan faham yang terdapat dalam partai
nasionalis ini. Perpecahan diawali oleh keputusan DPP partai yang menghukum
petinggi PNI Jawa Tengah mengenai sikap mereka terhadap PKI. Sanksi tersebut
membuahkan pro kontra dalam tubuh partai. Selain itu Nazzaruddin Sjamsuddin dalam buku ini,
juga memasukkan faktor perbedaan kondisi geografis dan pengalaman sejarah yang turut mempengaruhi perbedaan kebudayaan
poitik elit-elit PNI, juga tak
ketinggalan faktor sosial ekonomis dan persaingan pribadi.
Mengenai
sikap PNI terhadap Soekarno di
masa akhir Demokrasi Terpimpin, secara bertahap pada sidang umum
keempat dan sidang istimewa MPRS memang kelihatan PNI masih dapat
mempertahankan pendirian yang ditetapkanya terhadap Soekarno. Akan tetapi,
secara keseluruhan, PNI harus melepaskan prinsipnya yang menghendaki
pengembalian status Soekarno
sesuai dengan UUD 1945. Lagipula PNI juga harus menerima kenyataan, bahwa Soekarno telah kehilangan kekuasaan dalam
kepolitikan Indonesia.
Dalam
penyikapan PNI terhadap Orde Baru juga memperlihatkan perpecahan. Pada dasarnya
perpecahan itu bersumber pada suatu tujuan bersama, yakni membuat PNI kembali
menjadi suatu partai yang berpengaruh seperti masa sebelumnya. Agaknya yang
menjadi persoalan bagi masing-masing tokoh dan pengikut mereka dalam hal ini
adalah strategi apa yang harus dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Kelompok pragmatis ingin mencapai tujuan dengan mengandalkan strategi kerja
sama PNI dengan Pemerintah Orde Baru. Sisi lainnya, kelompok ideolog ingin memperkuat posisi
partai secara mandiri, lepas dari pengaruh luar. Sejarah telah memperlihatkan
bahwa dengan memanfaatkan pengaruh dari luar partai, kelompok pragmatis
berhasil mengalahkan kelompok ideolog. Meskipun
PNI merasa dekat dengan pemerintah, namun sebenarnya partai itu tidak
memperoleh apa yang diinginkannya, yakni
pengaruh
politik. Akhirnya bersama dengan Parkindo, IPKI, Partindo, Partai Katolik,
Murba, bulan Januari
1973 PNI masuk dalam penyederhanaan kepartaian dibawah Partai Demokrasi
Indonesia (PDI).
Kesan
yang ditinggalkan PNI di dalam PDI sesungguhnya tidak dapat dihindari, karena
partai yang terakhir ini harus bergelut dengan unsur-unsur bekas PNI di dalam
aktivitasnya sehari-hari. Sebagai suatu partai
besar, dengan ideologi dan masaa yang kuat, tidaklah heran bahwa
pengaruh PNI dalam PDI lebih kuat daripada partai lainya. Di lain pihak,
meskipun penggabungan ke dalam PDI mengakhiri eksitensi PNI sebagai suatu
partai politik, akan tetapi pergesekan antara kelompok-kelompok di dalamnya
belum sirna. Semisal soal pro kontra asas tunggal Pancasila.
Pada
masa kini atau pasca reformasi, diakui ataupun tidak, saat ini semangat
perjuangan PNI
bernaung dalam Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan. Anggota partai meskipun semuanya berstatus PDI Perjuangan, namun
masih ada pengelompokan orang-orang yang bisa disebut mewarisi semangat
perjuangan PNI Bung Karno 1927, dimana ajaran-ajaran Bung Karno mengenai
marhaenisme diyakini sebagai marhaenisme-nya partai. Namun, langkah suatu
partai mengidentifikasikan diri dengan satu tokoh memang mengandung kekuatan
sekaligus kelemahan. Dalam kasus PNI, terlihat bagaiamana ketika Bung Karno
jaya, PNI juga ikut jaya, sedangkan ketika Bung Karno jatuh, PNI pun ikut
jatuh. Oleh karena itu, partai-partai yang mengidentifikasi diri dengan figur
seseorang harus mampu melakukan manuver politik yang lincah ketika situasi
politik sudah mulai tidak menguntungkan.
Kejadian
yang menimpa PNI sebenarnya menyiratkan bagaimana persaingan elit-elit
politiknya untuk mendapatkan kekuasaan yang tidak mampu diartikulasi oleh sistem partai.
Seringkali perpecahan-perpecahan dalam tubuh Partai tidak bersifat ideologis
melainkan lebih ke arah pragmatisme Pada masa-masa sekarang, hampir semua
partai politik pernah mengalami perpecahan seperti PKB (Versi Ancol dan Versi
Parung), PPP dengan PPP Reformasi, PDI Perjuangan dengan Partai Demokrasi
Pembaruan (PDP). Motif perpecahan biasanya juga tidak jauh dari perebutan kekuasaan.
Oleh
karenanya, penting untuk setiap partai yang ada hari ini menjaga soliditas dan
terus menerus menanamkan cara-cara penyelesaian yang elegan dalam tiap
permasalahan di dalam partai. Tanpa sikap-sikap ksatria, mengutamakan
musyawarah untuk mufakat, mau mengalah demi kepentingan yang lebih besar,
niscaya suatu partai senantiasa akan mengalami konflik yang berkepanjangan. PNI
kini memang telah sirna dalam kepolitikan Indonesia, tetapi nilai-nilai
nasionalismenya bukan berarti akan surut pula. Ia akan terus hidup bersama
mekarnya nasionalisme Indonesia. Namun sisi gelap kepolitikan PNI juga harusnya
memberi pelajaran bagi elit-elit partai dalam hal bagaimana hidup dan
menghidupi dalam kehidupan berpartai. Hal ini agar demokrasi kita menjadi
demokrasi yang sehat dimana kepolitikan partai diarahkan kepada perwujudan
kedaulatan seluruh rakyat, bukan kedaulatan orang per orang, kelompok maupun
golongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar